TOUNA - Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (BTNKT) Kabupaten Tojo Una-una bersama Asean Enmaps melakukan kunjungan ke tiga desa di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean yaitu Desa Tiga Pulau Kecamatan Walea Kepulauan, Desa Kabalutan Kecamatan Togean dan Desa Pulau enam Kecamatan Talatako, Kamis (8/5/2025).
Kepala Kantor Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (BTNKT) Kabupaten Touna, Abdul Rajab mengatakan bahwa Asean Enmaps adalah proyek pengelolaan jaringan kawasan konservasi laut yang efektif dalam ekosistem laut besar di kawasan Asean, proyek ini melibatkan 3 (tiga) negara yaitu Thailand, Filipina dan Indonesia dengan 10 taman nasional di ketiga negara tersebut.
Di Indonesia proyek ini dilakukan di dua taman nasional, yaitu Taman Nasional Kepulauan Togean di Provinsi Sulawesi Tengah dan Taman Nasional Wakatobi di Provinsi Sulawesi Tenggara.
"Tujuan proyek ini adalah membangun kapasitas lokal untuk mempromosikan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, konservasi keanekaragaman hayati laut dan pembangunan yang inklusif serta bertanggung jawab,"ujar Abdul Rajab,Jumat (9/5/2025).
Rajab katakan, kegiatan yang dilaksanakan di tiga desa tersebut antara lain melakukan pemetaan tentang keberadaan ikan dengan invertebrata (non ikan), ancaman yang dirasakan, potensi ikan dan jenis-jenis komuditas lainnya, mata pencaharian masyarakat, keterlibatan para pihak dalam pencarian solusi serta masalah keterlibatan perempuan dalam mata pencaharian dan pertemuan, peningkatan pengetahuan dan keterampilan, prioritas kegiatan serta mekanisme komunikasi, pertanyaan dan keluhan.
"Hasil diskusi pemetaan dengan masyarakat yaitu masyarakat pernah menjumpai ikan dengan invertebrata (non ikan) seperti jenis penyu, kima, dugong serta kerang merah (triton) di wilayah sekitar Desa Tiga Pulau, Desa Kabalutan dan Desa Pulau Enam. Ancaman yang dirasakan oleh masyarakat yaitu banyaknya lokasi pengeboman dan memancing ikan dengan menggunakan bius ikan (sianida) yang mengakibatkan terumbu karang hancur dan berdampak pada jumlah populasi ikan,"tuturnya.
Menurutnya, jika populasi ikan menurun maka pendapatan para nelayan juga akan turun dan akan berdampak terhadap ekonomi masyarakat sekitar Desa Tiga Pulau.
Mata pencaharian mayoritas masyarakat kepulauan yang ada di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean adalah nelayan, sumber daya laut yang menjadi fokus masyarakat yaitu ikan lolosi, ikan sunu (ikan batu merah) dan suntung (cumi-cumi). Keterlibatan perempuan dalam mencari mata pencaharian sebagian besar yaitu pada pengelolaan ikan seperti pengelolaan ikan menjadi abon atau pengelolaan ikan untuk menjadi nasi kuning.
"Dari permasalahan masyarakat Desa Tiga Pulau mengusulkan agar pemerintah dan Taman Nasional Kepulauan Togean melaksanakan patroli untuk menghentikan penggunaan bius ikan (sianida),"jelasnya.
Selain itu, kata Rajab adanya penyadartahuan masyakarat berharap tentang perlindungan laut, keterkaitan antara laut, iklim, keanekaragaman hayati, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, pelatihan pengelolaan sampah serta kesetaraan atau keadilan gender, disabilitas, keberagaman yang ada.
"Materi workshop yang disampaikan berkaitan dengan pengenalan proyek, konservasi keanekaragaman hayati, serta strategi pengelolaan berbasis ekosistem laut yang selanjutnya menjadi bahan dalam audiensi ke Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah,"ucapnya.
Dalam kunjungan tersebut dilaksanakan bersama perwakilan Direktur Konservasi Kawasan, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tojo Una-Una dan Dinas Pariwisata Kabupaten Tojo Una-Una.